Di awal atau saat memasuki bulan Rajab, sebagian saudara kita ada yang menyebarkan info bahwa puasa Rajab
tanggal 1 akan menghapus dosa selama 3 tahun, tanggal 2 akan menghapus
dosa 2 tahun, tanggal 3 akan menghapus dosa 1 tahun, tanggal 4 akan
menghapus dosa selama 1 bulan, dan amal di bulan rajab akan diberi
pahala 70 kali lipat. Adakah anjuran secara khusus puasa awal Rajab?
Hadits Tentang Puasa Rajab
Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits yang menunjukkan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan para sahabatnya.” (Latho’if Al Ma’arif, hal. 213). Ibnu Rajab
menjelaskan pula, “Sebagian salaf berpuasa pada bulan haram seluruhnya
(bukan hanya pada bulan Rajab saja, pen).
Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Ibnu ‘Umar, Al Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Sabi’iy. Ats Tsauri berkata, “Bulan haram sangat kusuka berpuasa di dalamnya.” (Latho’if Al Ma’arif, hal. 214).
Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Ibnu ‘Umar, Al Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Sabi’iy. Ats Tsauri berkata, “Bulan haram sangat kusuka berpuasa di dalamnya.” (Latho’if Al Ma’arif, hal. 214).
Ibnu Rajab kembali berkata, “Tidak dimakruhkan jika seseorang
berpuasa Rajab namun disertai dengan puasa sunnah pada bulan lainnya.
Demikian pendapat sebagian ulama Hambali. Seperti misalnya ia berpuasa
Rajab disertai pula dengan puasa pada bulan haram lainnya. Atau bisa
pula dia berpuasa Rajab disertai dengan puasa pada bulan Sya’ban.
Sebagaimana telah disebutkan bahwa Ibnu ‘Umar dan ulama lainnya berpuasa pada bulan haram (bukan hanya bulan Rajab saja). Ditegaskan pula oleh Imam Ahmad bahwa siapa yang berpuasa penuh pada bulan Rajab, maka saja ia telah melakukan puasa dahr yang terlarang (yaitu berpuasa setahun penuh).” (Latho’if Al Ma’arif, hal. 215).
Sebagaimana telah disebutkan bahwa Ibnu ‘Umar dan ulama lainnya berpuasa pada bulan haram (bukan hanya bulan Rajab saja). Ditegaskan pula oleh Imam Ahmad bahwa siapa yang berpuasa penuh pada bulan Rajab, maka saja ia telah melakukan puasa dahr yang terlarang (yaitu berpuasa setahun penuh).” (Latho’if Al Ma’arif, hal. 215).
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap hadits yang
membicarakan puasa Rajab dan shalat pada sebagian malam (seperti shalat
setelah Maghrib pada malam-malam pertama bulan Rajab, pen), itu
berdasarkan hadits dusta.” (Al Manar Al Munif, hal. 49).
Penulis Fiqh Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah
berkata, “Adapun puasa Rajab, maka ia tidak memiliki keutamaan dari
bulan haram yang lain. Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan
keutamaan puasa Rajab secara khusus. Jika pun ada, maka hadits tersebut
tidak bisa dijadikan dalil pendukung.” (Fiqh Sunnah, 1: 401).
Sebagaimana dinukil oleh Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah (1: 401),
Ibnu Hajar Al Asqolani berkata, “Tidak ada dalil yang menunjukkan
keutamaan puasa di bulan Rajab atau menjelaskan puasa tertentu di bulan
tersebut. Begitu pula tidak ada dalil yang menganjurkan shalat malam
secara khusus pada bulan Rajab. Artinya, tidak ada dalil shahih yang
bisa jadi pendukung.”
Syaikh Sholih Al Munajjid hafizhohullah berkata, “Adapun
mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ada hadits shahih yang
menunjukkan keutamaannya atau menunjukkan anjuran puasa saat bulan
Rajab. Yang dikerjakan oleh sebagian orang dengan mengkhususkan sebagian
hari di bulan Rajab untuk puasa dengan keyakinan bahwa puasa saat itu
memiliki keutamaan dari yang lainnya, maka tidak ada dalil yang
mendukung hal tersebut.” (Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 75394)
Puasa Hari Tertentu dari Bulan Rajab
Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia pernah ditanya, “Diketahui bahwa
di bulan Rajab dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. Apakah puasa
tersebut dilakukan di awal, di tengah ataukah di akhir.”
Jawaban dari para ulama yang duduk di komisi tersebut, “Yang tepat,
tidaklah ada hadits yang membicarakan puasa khusus di bulan Rajab selain
hadits yang dikeluarkan oleh An Nasa-i dan Abu Daud, hadits ini
dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari hadits Usamah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah pernah melihatmu berpuasa yang lebih bersemangat dari bulan Sya’ban.” Beliau bersabda, “Bulan
Sya’ban adalah waktu saat manusia itu lalai, bulan tersebut terletak
antara Rajab dan Ramadhan. Bulan Sya’ban adalah saat amalan diangkat
pada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karenanya, aku suka amalanku
diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Ahmad 5: 201,
An Nasai dalam Al Mujtaba 4: 201, Ibnu Abi Syaibah (3: 103), Abu Ya’la,
Ibnu Zanjawaih, Ibnu Abi ‘Ashim, Al Barudi, Sa’id bin Manshur
sebagaimana disebutkan dalam Kanzul ‘Amal 8: 655).
Yang ada hanyalah hadits yang sifatnya umum yang memotivasi untuk
melakukan puasa tiga setiap bulannya dan juga dorongan untuk melakukan
puasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14, 15 dari bulan hijriyah.
Juga dalil yang ada sifatnya umum yang berisi motivasi untuk melakukan
puasa pada bulan haram (Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab).
Begitu pula ada anjuran puasa pada hari Senin dan Kamis.
Puasa Rajab
masuk dalam keumuman anjuran puasa tadi. Jika engkau ingin melakukan
puasa di bulan Rajab, maka pilihlah hari-hari yang ada dari bulan
tersebut. Engkau bisa memilih puasa pada ayyamul bidh atau puasa Senin-Kamis. Jika tidak, maka waktu puasa pun bebas tergantung pilihan.
Adapun pengkhususan bulan Rajab dengan puasa pada hari tertentu, kami
tidak mengetahui adanya dalil yang mensyari’atkan amalan tersebut.
Hanya Allah yang memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
السؤال : هناك أيام تصام تطوعا في شهر رجب ، فهل تكون في أوله أو وسطه أو آخره؟
جـ:
لم
تثبت أحاديث خاصة بفضيلة الصوم في شهر رجب سوى ما أخرجه النسائي وأبو داود
وصححه ابن خزيمة من حديث أسامة قال: (( قلت: يا رسول الله، لم أرك تصوم من
شهر من الشهور ما تصوم من شعبان، قال: ذلك شهر يغفل عنه الناس بين رجب
ورمضان، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا
صائم )) [ أحمد (5 / 201)، والنسائي في [المجتبى] (4 / 201)، وابن أبي شيبة
(3 / 103)، وأبو يعلى، وابن زنجويه، وابن أبي عاصم، والبارودي، وسعيد بن
منصور كما في [كنز العمال] (8 / 655) ]
وإنما وردت أحاديث عامة في الحث على صيام ثلاثة أيام من كل شهر والحث على صوم أيام البيض
من
كل شهر وهو الثالث عشر والرابع عشر والخامس عشر والحث على صوم الأشهر
الحرم، وصوم يوم الإثنين والخميس، ويدخل رجب في عموم ذلك، فإن كنت حريصا
على اختيار أيام من الشهر فاختر أيام البيض الثلاث أو يوم الإثنين والخميس
وإلا فالأمر واسع، أما تخصيص أيام من رجب بالصوم فلا نعلم له أصلا في
الشرع.
وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
الرئيس
عبدالعزيز بن عبدالله بن باز
نائب الرئيس
عبد الرزاق عفيفي
عضو
عبد الله بن عبد الرحمن بن غديان
عضو
عبد الله بن قعود
(( المصدر )) : فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء – (ج2/ص50
Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz selaku
ketua, Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, Syaikh ‘Abdullah
bin ‘Abdurrahman Ghudayan dan Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud selaku anggota.
(Sumber Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’, 2:
50).
Hanya Allah yang memberi taufik.
—
@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, diselesaikan 29 Jumadal Akhiroh 1434 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar